Filsafat Pancasila: Jalan Menuju Kebenaran Pancasila

Oleh Edy Soge

Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere

Pendidikan Pancasila sebagai bagian dari dinamika pedagogik dan akademik harus dikaji dan dianalisa secara lebih kritis, menyeluruh, runtut, dan logis. Tidak bisa membaca rumusan sila-sila Pancasila dengan satu sudut pandang saja dalam pemahaman partikular subjektif karena bisa jadi kita terperangkap dalam logika primodial bahwa yang kita yakini adalah paling benar. Kita perlu ingat bahwa Pancasila dilahirkan dari refleksi dan dialektika yang mempertautkan ide Nusantara dan Barat. Karena itu filsafat Pancasila berperan untuk mencari dan menemukan kebenaran asali Nusantara dan pokok utama kearifan Indonesia. Filsafat Pancasila adalah studi kiritis – filosofis – ilmiah tentang keberadaan dan hakikat dasar negara dalam kerangka berpikir filsafat.  Notonegoro dengan teori causalis (sebab-musebab) menjelaskan asal muasal Pancasila bahwa keberadaan pancasila sebagai dasar negara memiliki sebab yaitu causa materialis, causa formalis, causa finalis dan causa efficiens. Sebab pertama menyangkut adat kebiasaan, kebudayaan dan agama bangsa Indonesia. Sebab kedua soal hasil pemikiran anggota BPUPKI Soekarno dan Hatta atau tegasnya formulasi Pancasila oleh Soekarno yang disampaikan dalam pidatonya, 1 Juni 1945. Sebab ketiga  berhubungan dengan Pancasila sebagai calon filsafat negara dan sebab keempat keberadaan Pancasila yaitu peran PPKI yang secara resmi menetapkan pembukaan UUD 1945 dengan poin utama Pancasila. PPKI bertindak atas kuasa pembentuk negara. Driyakara dengan pendekatan antropologi metafisika melihat Pancasila dalam keberadaan paling ultim manusia Indonesia. Pancasila bersifat eksistensial karena keberadaannya melekat erat dalam eksistensi manusia Indonesia.

Pemahaman filsafat atas pancasila harus menjadi tuntutan akademik bagi mahasiswa Indonesia. Tidak boleh kita berpikir bahwa pendidikan Pancasila hanya khusus pelajar SD, SMP dan SMA/SMK. Pendidikan Pancasila adalah studi penting bagi seegenap publik Indonesia tanpa terkecuali. Secara formal itu didapat di sekolah, tetapi secara nonformal atau informal kita telah mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila di dalam hidup kita sehari-hari baik di dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat luas. Pembelajaran Filsafat Pancasila membantu pelajar atau mahasiswa Indonesia menemukan dasar dan konsekuensi dari ideologi negara bangsa. Filsafat Pancasila penting diajarkan di bangku kuliah sebab mata kuliah ini membantu mahasiswa berpikir secara kritis terhadap Pancasila dan membongkar selubung ideologi sempit yang memenjarakan Pancasila dalam tafsir tunggal.

Kuliah Filsafat Pancasila sangat penting dewasa ini ketika geliat ideologi Islam (Khilafah), fundamnetalisme agama, terorisme, korupsi, perdagangan orang, houx menyebar begitu cepat dan kuat berpengaruh di ruang publik. Kita mengalami atau menyaksikan persoalan-persolan kebangsaan dalam hidup sehari-hari. Ada begitu banyak masalah yang bertentangan dengan sila-sila Pancasila. Dalam konteks sila pertama (Ketuhanan Yang Mahaesa) pelanggaran yang dibuat ialah intoleransi antaragama, gerakan radikal atas nama agama, pembakaran rumah ibadat dan lain sebagainya.

Kelompok tertentu kurang memahami prinsip ketuhanan dalam sila pertama bahwa sebetulnya tidak ada klaim tunggal Tuhan satu agama tertentu. Tuhan adalah universal – awal (alfa) dan akhir (omega) yang keberadaanya melampaui agama. Karena itu tidak bisa Tuhan yang agung dan mulia itu dipasung dalam agama yang sedang berjalan menuju kesempurnaan. Soekarno merumuskan prinsip ini jelas melukiskan religiositas dan spiritualitas Nusantara bahwa kita orang Timur adalah orang yang religius, yang sangat hormat kepada Tuhan.  Dalam tafsir Driyakara ketuhanan adalah dasar semua perbuatan, dasar dari pelaksanaan Perikemanusian, Keadilan sosial, Demokrasi dan Kesatuan bangsa.  Namun segelintir orang sudah melanggar perintah Tuhan dengan melukai yang lain atas nama agama. Mereka menganggap agamanya sendiri paling benar dan mereka menginginan hanya satu agama saja di NKRI ini.

Menurut Notonegoro kelima butir Pancasila merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dan mempunyai susunan yang bersifat hierarkis-pyramidal: sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan basis dari sila-sila yang lain.  Dengan demikian pelanggaran terhadap prinsip ketuhanan berimplikasi pada sila-sila yang lain. Jika sudah melanggar sila pertama, sila yang lain juga dilanggar. Kemanusian diperbudak, persatuan dilecekan, demokrasi dikhianatai dan keadilan sosial dipasung oleh pemerintahan yang korup. Anak di bawah umur dipekerjakan secara tidak wajar, perang antarsuku dan disintegrasi, penelantaran terhadap para veteran dan mantan atlet. OPM (Organisasi Papua Merdeka) sejak 1965 berusaha memisahkan Papua Barat dari wilayah NKRI. Fakta ini telah menodai harmoni persatuan dan kesatuan bangsa. Barangkali belum terciptanya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga ada usaha untuk menarik diri dari integrasi bangsa.

Selain kita alami secara nyata dalam kehidupan konkret, pelanggaran terhadap nilai-nilai Pancasila juga terjadi di dunia virtual. Para pengguna media secara terang-terangan menyebarkan berita bohong dan di sana pula terjadi praktik prostitusi online. Tidak ada lagi pemisahan yang jelas antara ruang privat dan ruang publik di ranah jagat maya. Dunia begitu sempit dan ruang waktu seolah tak berjarak. Saling menyapa berkomunikasi kapan saja begitu mudah. Namun di dalam kemudahan itu masih saja terjadi pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, agama, dan moral. Ini adalah bukti nyata bahwa di dunia virtual pun nilai-nilai Pancasila dilecehkan. Bahkan jaringan ISIS meluas menyebebar di mana-mana begitu cepat dengan berbagai peristiwa tragis bom bunuh diri, penembakan , penahanan dan lain sebagainya.

Fakta riil konkret dan virtual yang demikian menggugat kemapanan dasar negara kita. Karena itu panggilan untuk menghidupkan dan menghayati nilai-nilai Pancasila menjadi sangat penting. Kita tidak bisa lalai dari tugas ini karena nilai-nilai Pancasila bersifat mutlak dan harus diwujudkan dalam kehidupan kita.  Dalam konteks era digital kita hendaknya memperhatikan aspek-aspek penting dalam komunikasi dan berjuang mengembangkan literasi digital. Insan akademis diharapkan menjadi konsumen teknologi yang kritis yang menggunakan media sosial sebagai media pewartaan akan kebenaran, kebenaran Pancasila.

Persolan-persolan kebangsaan yang merongrong substansi ideologi mengandaikan segelintir orang kurang mengerti dan memahami secara radikal nilai-nilai Pancasila. Kelompok orang itu hanya berpikir di permukaan saja menggunakan penalaran infantil dan artifisial sehingga tidak menangkap hakikat Pancasila. Cara berpikir ini harus diganti dengan cara berpikir filsafat yaitu berpikir secara radikal, koheren-komprehensif, sistematis-universal, bebas-bertanggung jawab. Cara berpikir filsafat ini yang membantu kita memahami Pancasila secara benar dan dapat mepertanggungjawabkannya di dalam kehidupan. Karena itu studi Filsafat Pancasila dengan sebuah pemahaman deialektis logis sangat penting baik bagi mahasiswa- mahasiswi, pelajar SD, SMP, SMA/SMK, maupun segenap masyarakat yang mengerti Pancasila. Sebetulnya perintah ini tidak hanya perintah akademik khusus yang mengenyam pendidikan formal, tetapi juga menjadi impertaif kategoris untuk semua kita orang Indonesia.

Ideologi Pancasila Yes Ideologi Agama No

Oleh: Edy Soge

Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere

Negara Indonesia bukanlah negara agama atau negara komunis. Indonesia khas dengan Pancasila sebagai dasar negaranya. Negara Indonesia adalah negara Pancasila.  Sangat tidak mungkin di tengah fakta pluralitas sebuah agama mengangakat diri sebagai satu-satunya yang harus berkuasa. Islam adalah agama yang penganutnya mayoritas di Indonesia. Itu tidak berarti Islam adalah satu-satunya agama di Indonesia. Karena itu keberadaan bangsa ini sama sekali tidak berdasar pada dasar ideologi agama tetapi pada asas kebangsaan yang menerima realitas kemajemukan. Dasar nasionalisme dan kebangsaan inilah yang merupakan muatan ideologi Pancasila sebagai ideologi terbuka sebab  tidak totaliter dan eksklusif.  Pancasila tidak menjadi milik kelompok atau agama tertentu tetapi merupakan karya bersama bangsa Indonesia.

Sejarah peradaban bangsa Indonesia tidak pernah lepas dari polemik negara agama (religion state) dan negara sekular (secular state). Periode perumusan dasar negara berjalan dalam dinamika yang kurang harmonis antara golongan  Islam yang menghendaki berdirinya sebuah negara dengan dasar agama (Islam) dan golongan kebangsaan yang melihat agama dan negara sebagai dua entitas yang berbeda satu dengan yang lain tetapi saling mendukung dan menunjang persatuan dan peradaban. Kelompok Islam kurang sepakat dengan rumusan Soekarno mengenai prinsip Ketuhanan sehingga tambahan tujuh kata, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya tetap mereka pertahankan sebagai sila pertama Pancasila. Pendirian khas Islam ini menimbulkan perdebatan bahkan ‘geliat’ corak agama ini masih sedang bermain di atas pentas demokrasi Indonesia hingga saat ini.

Ide keagamaan ini (Islam) berusaha menempatkan Islam sebagai pegangan dan titik tolak negara yaitu negara agama, religion state. Mohammad Natsir (1908-1993) dan H. Agus Salim (1884-1954) percaya bahwa Islam adalah ideologi yang tepat bagi bangsa Indonesia. Mereka menolak nasionalisme Soekarno, dan dengan itu mengabaikan pluralitas. Ideologi ini menununjukkan superioritas agama Islam sebagai agama yang penganutnya paling banyak di Indonesia. Selain itu bisa jadi gagasan ini memperlihatkan kepicikan logika berpikir tokoh-tokoh Islam yang berusaha mempersatukan agama dan negara sehingga menjadikannya negara agama. Bukankah agama masuk dalam ruang privat (private sphere) individu yang memiliki kebebasan untuk beragama dan merayakan keyakinan religius secara personal antara dirinya dengan Tuhan yang dimaninya. Urusan agama adalah urusan privat. Namun urusan negara adalah urusan publik masyarakat yang mendiami suatu wilayah yang dipimpin oleh pemerintahan yang berkedaulatan. Apa yang terjadi jika Islam menjadi dasar negara Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Tidak bisa Islam menjadi ideologi bangsa ini sebab itu adalah sesuatu yang irasional. Karena itu para pendiri bangsa ini Soekarno, Hatta, Syarir, dan yang lain berusaha mempersatukan yang berbeda, mempertemukan yang beragam dalam satu keyakinan ideologis yaitu Pancasila. Pancasila adalah dasar negara Indonesia dan menjadi rumah bagi kebhinnekaan kita. Pancasila adalah milik semua anak bangsa, dan bukan propaganda kelompok tertentu.

            Indonesia berada dalam ketegangan antara agama dan negara. Pancasila sebagai dasar negara diteror dengan berbagai isu keagamaan dan politik identitas. Kelompok Islam garis keras mengusung agama sebagai identitas politik dalam negara demokrasi kita Indonesia, yang saat ini seolah-olah hendak diislamkan oleh kelompok fundamentalisme Islam. Gerakan ini merusak dasar hidup masyarakat madani Indonesia yang berpegang teguh pada sila-sila Pancasila yang menjadi arah dan dasar hidup, falsafah bangsa Indonesia, philosofische grondslag, weltanschauung.  Karena itu penting bagi kita untuk menilik secara kirits filosofis sila-sila Pancasila sehingga tidak dinilai secara partikular dan dimanipulasi sebagai kepentingan kelompok tertentu. Pancasila lahir dari refleksi panjang sejarah perjuangan dan bukan merupakan warisan penjajah.

Sikap menolak Pancasila dan mengabaikan pluralitas bangsa adalah intolerasi terbesar dan irasionalitas murahan yang harus dintantang dengan argumentasi yuridis, filosofis, historis, dan kultural. Pembenaran dalam aspek-aspek ini memantapkan dan mengokohkan ideologi Pancasila sebagai satu-satunya dasar negara Indonesia, pedoman hidup, pegangan dan filsafat segenap warga negara republik Indonesia. Sudah waktunya kita dipanggil untuk menyadari seluruh keberadaan kita sebagi orang Indonesia yang dipersatukan oleh Pancasila. Kita dilindungi dan dijaga oleh rumah kebangsaan kita yaitu Pancasila. Kita berada, hidup dan tinggal di dalam rumah religius (Ketuhann Yang Mahaesa), rumah kemanusian (Kemanusian yang adil dan beradab), rumah persatuan (Persatuan Indonesia), rumah demokrasi (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan  perwakilan), dan rumah keadilan (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). Kita adalah tuan atas rumah itu dan bukan tamu yang selalu merasa asing di rumah yang bukan rumahnya. Kita adalah pemilik sah atas Pancasila. Jika kita pernah berpaling, kita harus kembali ke asal, ke dasar dan asas hidup berbangsa. Kita kembali ke Pancasila, berkaca padanya, menemukan nilai-nilai luhur dan menginternalisasikannya lalu kita nyatakan dalam tindakan hidup sehari-hari.

Prof. Dr. Konrad Kebung, SVD dalam tulisannya, Indonesians House Of Pancasila: The Symbol Of Unity In Diversity dalam Verbum SVD  edisi 59:4 (2018, hlm. 442) menulis:

All Indonesian are called to go home, bak to their own roots mirrored in the state ideology of Pancasila that guarantees all Indonesians ti live peacefully without any threats, in loving conditions, the sense of brotherhood and sisterhood. At home people can discuss and talk about many things that enhance the sense of unity, brotherhood, and love.

Ajakan dan sapaan ini adalah panggilan kebangsaan yang mengajak kita untuk merawat rumah Pancasila. Rumah yang mempersatukan kita walaupun kita berebda. Rumah Pancasila Indonesia adalah simbol persatuan dalam perbedaan. Karena itu kita semua dipanggil untuk merawat rumah Pancasila yang selalu memberikan keteduhan hidup berbangsa dan bernegara.

            Contoh konkret pemerintah dalam merawat rumah Pancasila ialah pembubaran Ormas HTI. Sikap tegas pemerintah membubarkan organisasi masyarakat HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) merupan sikap pro-Pancasila dan menjunjung tinggi kebenaran kebhinnekaan. Sejak zaman orde baru wacana organisasi masyarakat selalau berwawasan Islam menekankan kebebasan berserikat atas dasar kesamaan pandangan, pemikiran dan tujuan. Namun kehadiran kelompok ini dicurigai menggantikan Pancasila dengan ideologi agama sehingga Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (UU) No. 2 Tahun 2017 tentang Ormas yang akhirnya disetujui DPR untuk dijadikan UU dalam sidang paripurna 24 Oktober 2017. Berdasarkan UU Ormas tersebut, maka ormas HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dibubarkan.

            Pemerintahan membubarkan HTI dengan maksud menjaga keutuhan dan persatuan negara. Sebetulnya kerja nyata pemerintah ini merupakan tanggapan atas gagasan-gagasan persatuan dan demokrasi dalam sila ketiga dan keempat Pancasila. Masyarakat akan menilai bobrok pemerintahan ini jika mereka mempertahankan kelompok-kelompok masyarakat yang berusaha memecabelahkan negara.

Tindakan pemerintah saya nilai sangat masuk akal karena Ormas HTI masuk dalam “paham lain yang bertujuan mengganti/mengubah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945″. Pemerintah menjalankan idea Pancasila sebagai ideologi terbuka dan tidak mensakralkan Pancasila secara tertutup seperti pemerintahan rezim Orde Baru. Dengan ini pemerintah harus menjadi motivator dan inspirator bagi masyarakat dalam merealisasikan nilai-nilai Pancasila. Pemerintah harus Pancasilais. Bersama pemerintah kita harus tegas mengatakan ideologi Pancasila yes ideologi agama no. Selamat menegara secara Pancasilais!

OPINI

Ideologi Pancasila Yes Ideologi Agama No

Oleh: Edy Soge

Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere

Negara Indonesia bukanlah negara agama atau negara komunis. Indonesia khas dengan Pancasila sebagai dasar negaranya. Negara Indonesia adalah negara Pancasila.  Sangat tidak mungkin di tengah fakta pluralitas sebuah agama mengangakat diri sebagai satu-satunya yang harus berkuasa. Islam adalah agama yang penganutnya mayoritas di Indonesia. Itu tidak berarti Islam adalah satu-satunya agama di Indonesia. Karena itu keberadaan bangsa ini sama sekali tidak berdasar pada dasar ideologi agama tetapi pada asas kebangsaan yang menerima realitas kemajemukan. Dasar nasionalisme dan kebangsaan inilah yang merupakan muatan ideologi Pancasila sebagai ideologi terbuka sebab  tidak totaliter dan eksklusif.  Pancasila tidak menjadi milik kelompok atau agama tertentu tetapi merupakan karya bersama bangsa Indonesia.

Sejarah peradaban bangsa Indonesia tidak pernah lepas dari polemik negara agama (religion state) dan negara sekular (secular state). Periode perumusan dasar negara berjalan dalam dinamika yang kurang harmonis antara golongan  Islam yang menghendaki berdirinya sebuah negara dengan dasar agama (Islam) dan golongan kebangsaan yang melihat agama dan negara sebagai dua entitas yang berbeda satu dengan yang lain tetapi saling mendukung dan menunjang persatuan dan peradaban. Kelompok Islam kurang sepakat dengan rumusan Soekarno mengenai prinsip Ketuhanan sehingga tambahan tujuh kata, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya tetap mereka pertahankan sebagai sila pertama Pancasila. Pendirian khas Islam ini menimbulkan perdebatan bahkan ‘geliat’ corak agama ini masih sedang bermain di atas pentas demokrasi Indonesia hingga saat ini.

Ide keagamaan ini (Islam) berusaha menempatkan Islam sebagai pegangan dan titik tolak negara yaitu negara agama, religion state. Mohammad Natsir (1908-1993) dan H. Agus Salim (1884-1954) percaya bahwa Islam adalah ideologi yang tepat bagi bangsa Indonesia. Mereka menolak nasionalisme Soekarno, dan dengan itu mengabaikan pluralitas. Ideologi ini menununjukkan superioritas agama Islam sebagai agama yang penganutnya paling banyak di Indonesia. Selain itu bisa jadi gagasan ini memperlihatkan kepicikan logika berpikir tokoh-tokoh Islam yang berusaha mempersatukan agama dan negara sehingga menjadikannya negara agama. Bukankah agama masuk dalam ruang privat (private sphere) individu yang memiliki kebebasan untuk beragama dan merayakan keyakinan religius secara personal antara dirinya dengan Tuhan yang dimaninya. Urusan agama adalah urusan privat. Namun urusan negara adalah urusan publik masyarakat yang mendiami suatu wilayah yang dipimpin oleh pemerintahan yang berkedaulatan. Apa yang terjadi jika Islam menjadi dasar negara Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Tidak bisa Islam menjadi ideologi bangsa ini sebab itu adalah sesuatu yang irasional. Karena itu para pendiri bangsa ini Soekarno, Hatta, Syarir, dan yang lain berusaha mempersatukan yang berbeda, mempertemukan yang beragam dalam satu keyakinan ideologis yaitu Pancasila. Pancasila adalah dasar negara Indonesia dan menjadi rumah bagi kebhinnekaan kita. Pancasila adalah milik semua anak bangsa, dan bukan propaganda kelompok tertentu.

            Indonesia berada dalam ketegangan antara agama dan negara. Pancasila sebagai dasar negara diteror dengan berbagai isu keagamaan dan politik identitas. Kelompok Islam garis keras mengusung agama sebagai identitas politik dalam negara demokrasi kita Indonesia, yang saat ini seolah-olah hendak diislamkan oleh kelompok fundamentalisme Islam. Gerakan ini merusak dasar hidup masyarakat madani Indonesia yang berpegang teguh pada sila-sila Pancasila yang menjadi arah dan dasar hidup, falsafah bangsa Indonesia, philosofische grondslag, weltanschauung.  Karena itu penting bagi kita untuk menilik secara kirits filosofis sila-sila Pancasila sehingga tidak dinilai secara partikular dan dimanipulasi sebagai kepentingan kelompok tertentu. Pancasila lahir dari refleksi panjang sejarah perjuangan dan bukan merupakan warisan penjajah.

Sikap menolak Pancasila dan mengabaikan pluralitas bangsa adalah intolerasi terbesar dan irasionalitas murahan yang harus dintantang dengan argumentasi yuridis, filosofis, historis, dan kultural. Pembenaran dalam aspek-aspek ini memantapkan dan mengokohkan ideologi Pancasila sebagai satu-satunya dasar negara Indonesia, pedoman hidup, pegangan dan filsafat segenap warga negara republik Indonesia. Sudah waktunya kita dipanggil untuk menyadari seluruh keberadaan kita sebagi orang Indonesia yang dipersatukan oleh Pancasila. Kita dilindungi dan dijaga oleh rumah kebangsaan kita yaitu Pancasila. Kita berada, hidup dan tinggal di dalam rumah religius (Ketuhann Yang Mahaesa), rumah kemanusian (Kemanusian yang adil dan beradab), rumah persatuan (Persatuan Indonesia), rumah demokrasi (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan  perwakilan), dan rumah keadilan (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). Kita adalah tuan atas rumah itu dan bukan tamu yang selalu merasa asing di rumah yang bukan rumahnya. Kita adalah pemilik sah atas Pancasila. Jika kita pernah berpaling, kita harus kembali ke asal, ke dasar dan asas hidup berbangsa. Kita kembali ke Pancasila, berkaca padanya, menemukan nilai-nilai luhur dan menginternalisasikannya lalu kita nyatakan dalam tindakan hidup sehari-hari.

Prof. Dr. Konrad Kebung, SVD dalam tulisannya, Indonesians House Of Pancasila: The Symbol Of Unity In Diversity dalam Verbum SVD  edisi 59:4 (2018, hlm. 442) menulis:

All Indonesian are called to go home, bak to their own roots mirrored in the state ideology of Pancasila that guarantees all Indonesians ti live peacefully without any threats, in loving conditions, the sense of brotherhood and sisterhood. At home people can discuss and talk about many things that enhance the sense of unity, brotherhood, and love.

Ajakan dan sapaan ini adalah panggilan kebangsaan yang mengajak kita untuk merawat rumah Pancasila. Rumah yang mempersatukan kita walaupun kita berebda. Rumah Pancasila Indonesia adalah simbol persatuan dalam perbedaan. Karena itu kita semua dipanggil untuk merawat rumah Pancasila yang selalu memberikan keteduhan hidup berbangsa dan bernegara.

            Contoh konkret pemerintah dalam merawat rumah Pancasila ialah pembubaran Ormas HTI. Sikap tegas pemerintah membubarkan organisasi masyarakat HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) merupan sikap pro-Pancasila dan menjunjung tinggi kebenaran kebhinnekaan. Sejak zaman orde baru wacana organisasi masyarakat selalau berwawasan Islam menekankan kebebasan berserikat atas dasar kesamaan pandangan, pemikiran dan tujuan. Namun kehadiran kelompok ini dicurigai menggantikan Pancasila dengan ideologi agama sehingga Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (UU) No. 2 Tahun 2017 tentang Ormas yang akhirnya disetujui DPR untuk dijadikan UU dalam sidang paripurna 24 Oktober 2017. Berdasarkan UU Ormas tersebut, maka ormas HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dibubarkan.

            Pemerintahan membubarkan HTI dengan maksud menjaga keutuhan dan persatuan negara. Sebetulnya kerja nyata pemerintah ini merupakan tanggapan atas gagasan-gagasan persatuan dan demokrasi dalam sila ketiga dan keempat Pancasila. Masyarakat akan menilai bobrok pemerintahan ini jika mereka mempertahankan kelompok-kelompok masyarakat yang berusaha memecabelahkan negara.

Tindakan pemerintah saya nilai sangat masuk akal karena Ormas HTI masuk dalam “paham lain yang bertujuan mengganti/mengubah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945″. Pemerintah menjalankan idea Pancasila sebagai ideologi terbuka dan tidak mensakralkan Pancasila secara tertutup seperti pemerintahan rezim Orde Baru. Dengan ini pemerintah harus menjadi motivator dan inspirator bagi masyarakat dalam merealisasikan nilai-nilai Pancasila. Pemerintah harus Pancasilais. Bersama pemerintah kita harus tegas mengatakan ideologi Pancasila yes ideologi agama no. Selamat menegara secara Pancasilais!

IN MEMORIAM MEI

IN MEMORIAM MEI[1]

Narasi dan Refleksi Reformasi dalam Puisi Mei Karya Joko Pinurbo[2]

Oleh Edy Soge Ef Er

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(Chairil Anwar)

Reformasi adalah narasi kebangsaan tentang perjuangan heroik anak bangsa yang sungguh merasa memiliki NKRI. Mereka adalah orang-orang muda, aktivis mahasiswa, penggagas organisasi massa mahasiswa dan pemuda, semisal Forkot (Forum Kota),  yang jiwa patriotismenya mekar dengar berani di ladang demokrasi yang gagal panen. Keberanian mereka mempertahankan kedaulatan negara dengan menutup rapat-rapat pintu tirani Orde Baru  pimpinan Soeharto dan membuka dengan gemilang gerbang reformasi, membawa dukacita yang mendalam dan sukacita yang harus terus diperjuangkan. Memang benar bahwa biji gandum itu harus jatuh dan mati supaya tumbuh dan berbuah. Demikian kisah tragis, episod dolorosa Mei 1998 telah memberi makna bagi kemerdekaan bangsa, fajar demokrasi terbit merekah terang benderang, kebebasan dan keadilan mendapat tempat yang layak. Kita patut menunduk kepala, mengenang dengan penuh hormat mereka yang tinggal tulang-tulang berserakan: Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie, Hafidin Royan, Heri Hertanto. Kematian empat orang mahasiswa oleh peluru menembus kulit mengusik kesadaran rasa, budi, dan karsa sehingga dengan nada melankoli saya memberi judul: In Memoriam Mei. Diinspirasi oleh sajak Mei karya Jokpin dan sajak  Krawang-Bekasi karya Chairil Anwar. Karena itu dengan penuh rasa kagum dan haru saya mengutip puisi Jokpin dan atas perintah Chairil, kenang, kenanglah, terus, teruskan jiwa kami, berusaha membicarakannya dalam kerangka refleksi reformasi.

Mei
Jakarta, 1998

Tubuhmu yang cantik, Mei
telah kau persembahkan kepada api.

Kau pamit mandi sore itu.
Kau mandi api.

Api sangat mencintaimu, Mei.
Api mengucup tubuhmu
sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.

Api sangat mencintai tubuhmu
sampai dilumatnya yang cuma warna
yang cuma kulit, yang cuma ilusi.

Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei
tubuh adalah juga tubuh kami.
Api ingin membersihkan tubuh maya
dan dusta kami dengan membakar habis
tubuhmu yang cantik, Mei.

Kau sudah selesai mandi, Mei.
Kau sudah mandi api.
Api telah mengungkapkan rahasia cintanya
ketika tubuhmu hancur dan lebur
dengan tubuh bumi;
ketika tak ada lagi yang mempertanyakan
nama dan warna kulitmu, Mei.

(2000)

Narasi kerusuhan Jakarta Mei 1998 dilukiskan secara puitik-simbolis lewat puisi di atas.  Daya bayang kita bisa pada dua interpretasi antara Mei sebagai perempuan dan Mei sebagai latar waktu. Jokpin dengan kemampuan imajinasi kreatif berusaha mengungkapkan realitas objektif ke dalam realitas puisi yang pastinya menyentuh nurani pembaca. Jika diluksikan secara objektif-ilmiah sebagai sebuah reportase mungkinnya rangsangan intuitif tidak terlalu besar. Jokpin membangkitkan  cita rasa kemanusian, menyentuh emosi publik. Ia menulis dengan „cita rasa“, yaitu dengan kedalaman perasaan kemanusian sebagai kristalisasi dari „cinta“.[3] Hal ini mampu menyentuh perasaan dan mengusik kesadaran pembaca.

Saya mencoba memahami lebih jauh bahwa Mei sebetulnya Jakarta (ibu kota negara) dan mungkin saja keempat mahasiswa Trisakti yang tertembak. Bahasa puisi sifatnya metaforik-simbolis dan memiliki personifikasi yang bisa menciptakan banyak pengertian. Sebuah puisi bisa memiliki lebih dari satu interpretasi tergantung cara pandang pembaca.

Dalam puisi di atas kita membaca Mei seolah-olah tidak takut menghadapi api. Bahkan ia mempersembahkan diri kepada api oleh karena saling mencintai.  Jokpin menulis:

Api sangat mencintaimu, Mei.
Api mengucup tubuhmu
sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.

Api sangat mencintai tubuhmu
sampai dilumatnya yang cuma warna
yang cuma kulit, yang cuma ilusi.


            Apakah ini karena sebuah kepatuhan atau rasa takut yang memaksa untuk menderita dan bahkan mati tanpa meninggalkan jejak. Kekuasaan diktatoris Soeharto adalah api yang membakar hangus wajah Ibu Kota Negara, Jakarta. Kekuasaan sewenang-wenang memaksa orang untuk tunduk pada rezim yang membelenggu.

Tragedi Mei bukan  kisah tunggal melainkan kisah komunal. Bahwa tubuh Mei yang terbakar adalah juga tubuh kita. Kerusuhan Jakarta adalah kerushan yang menimpa jiwa seluruh orang-orang Indonesia. Tragedi itu adalah tragedi kebangsaan kita, Indonesia dari Sambang sampai Merauke.

Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei
tubuh adalah juga tubuh kami.
Api ingin membersihkan tubuh maya
dan dusta kami dengan membakar habis
tubuhmu yang cantik, Mei.

Ada idiom menarik, tubuh maya, tubuh dusta yang mengungkapkan keserakahkan resim waktu itu. Resim penuh dusta dan korup. Namun, api membakar habis semuanya itu. Soeharto akhirnya mundur dari tahkta kepresidenan dengan pidato pengunduran diri pada pagi, 21 Mei 1998, setelah 32 tahun berkuasa. Api kuasa yang ia sulut membakar dirinya sendiri.

Sajak Mei adalah sebuah narasi bab pertama era reformasi bangsa Indonesia. Reformasi sebagai babak baru peradaban bangsa memberi peluang besar bagi pengartikulasiaan kemerdekaan. Di dalam reformasi liberalisme dan sosialisme dihidupkan demi keadilan sosial, kebebasan individu, dan kebebasan berdemokrasi.

Sajak Mei juga secara tersirat membiaskan kepergian kekal empat mahasiswa yang mati tertembak. Semua telah pergi. Hilang.  Tak mampu mengingat duka sebab menorehkan luka. Ketika tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei. Tetapi kita harus ingat pesan Chairil Anwar.

Kenang, kenang lah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenang lah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Kita harus meneruskan jiwa heroik dan semangat patriotisme para pahlawan yang memiliki  kebernanian menyuarakan kebenaran dan keadilan seperti kelompok mahasiswa yang berjuang habis-habisan kala itu. Tanggal 18-21 Mei 1998 massa mahasiswa melakukan pemusatan demonstrasi, menduduki Gedung Kura-kura kompleks DPR RI Senayan menuntut mundurnya presiden Soeharto. Mereka telah memberikan arti untuk bangsa dan negara dengan berjaga terus di garis batas pernyataan dan impian. Mereka telah berusaha menjaga Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir.

Kita bisa meneruskan semangat itu dengan pertama-tama mengenang mereka dalam doa. Kemudian kita harus berani mengatakan mana yang salah dan mana yang benar. Meninggalkan kemapanan dan menceburkan diri ke dalam realitas hidup masyarakat marginal. Mewartakan kebenaran lewat mimbar sabda atau mimbar media. Berani mengeritik pemerintahan yang tidak bijak dalam demokrasi. Dan arti personal reformasi yaitu pembentukan jati diri. Kita tidak lagi melawan rezim yang lalim dengan berdemonstrasi. Kita pertama-tama berjuang melawan diri sendiri, segala keinginan dan nafsu rendahan. Domba liar dalam diri harus dijinakkan. Tubuh kita tubuh maya tubuh dusta yang harus dihanguskan oleh api Roh Kudus agar kita mampu mengerti apa artinya hidup sebagai seorang warga negara. Reformasi diri personal harus menjadi idea pertama dan utama.


[1]Mei adalah salah satu judul puisi Joko Pinurbo yang terdapat dalam buku puisinya berjudul Selamat Menunaikan Ibadah Puisi. Puisi ini secara simbolis menarasikan kerusuhan di Jakarta, Mei 1998; momen reformasi. Mei, adalah personifikasi dari waktu (Mei, 1998), peristiwa tragis yang menyisihkan kenangan pahit dalam sejarah peradaban bangsa Indonesia. Saya pikir judul ini tepat untuk melukiskan Jakarta sebagai Ibu Kota Negara (ibu, perempuan)   kala itu dilanda kerusuhan beruntun, 12 Mei gugurnya empat mahasiswa Trisakti, 13 Mei pembakaran mobil , 14 Mei kerusuhan, 18-21 Mei pemusatan demonstrasi mahasiswa. Jakarta membara dalam api. Jokpin merepresentasikan peristiwa tragis dengan Mei, mirip nama seorang perempuan, yang mempersembahkan dirinya dibakar hangus oleh api sampai abu dan orang tak lagi mempertanyakan nama dan warna kulitnya.

Tulisan ini mencoba merefleksikan kembali tragedi awal reformasi dan sebetulnya saya menjawabi seruan imperatif Chairil Anwar, „kenang, kenanglah kami….“ Saya mengenang dengan penuh hormat para pejuang keadilan yang mati tertembak: Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie, Hafidin Royan, Heri Hertanto. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kepekaan patriotik, spirit pancasila, dan keberanian berkorban.

[2]Joko pinurbo atau dikenal Jokpin adalah penyair kontemporer Indonesia. Gaya berpuisinya khas. Ia menulis tentang pengalaman hidup sehari-hari yang sederhana yang kerap dilupakan penyair umumnya. Bahkan secara jenaka Jokpin mampu mengungkapkan secara klise apa yang dianggap tabu oleh masyarakat. Ia apa adanya. Namun, bernas dalam diksi dan renungan puitiknya tentang hidup sangat meperlihatkan fungsi literer.

Ia dilahirkan di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Sudah mulai menulis sewaktu di SMA Seminari Mertoyudan, Magelang yang diselesaikannya tahun 1981. Melanjutkan studi perguruan tinggi di IKIP (sekarang Universitas) Sanata Dharma, Yogyakarta; lulus tahun 1987. Kemudian mengajar di almamaternya sambil membantu di majalah Basis. Sejak 1992 bergabung dengan kelompok Gramedia. Selain menulis dan menyunting naskah, mengajar dan berceramah, ia ikut mengelola majalah Mata Baca dan jurnal Puisi. Menulis banyak buku kumpulan puisi di antaranya, Celana (Indonesia Tera, 1999), Telepon Genggam (Kompas, 2003), Kepada Cium (Gramedia Pustaka Utama, 2005), Baju Bulan: Seuntai Puisi Pilihan (Gramedia Pustaka Utama, 2013).  Keterangan lebih lanjut bisa dibaca lewat, http://yosiabdiantindaon.blogspot.com/2012/04/tentang-penyair-ph-joko-pinurbo.html; dan  https://id.wikipedia.org/wiki/Joko_Pinurbo, diakes pada Minggu, 30 Oktober 2018. 

[3]Felix Baghi, SVD, Redeskripsi Dan Ironi, Mengolah Cita Rasa Kemanusiaan (Maumere: Ledalero, 2014), hlm. iv.

PUISI-PUISI EDY SOGE EF ER

Puisi-Puisi  Edy Soge Ef Er*

PINUS

pada ladang embun hijau

dingin berkeriapan

dan di dadanya yang lapang

tumbuh pinus-pinus manis

yang matanya memandang langit

menengadah, berdoa

                        Senin, 11 September 2017

MENCARI EMBUN

aku mencari embun di bulan-bulan basah

musim hujan yang rajin melayat

duka derita orang-orang ladang

aneh, kutemukan dia di antara rintik-rintik

serupa ratapan serupa nyanyi, sunyi……

                                    Senin, 11 September 2017

MARAH

kita berciuman

di bawah rinai rindang santiji

ombak berdesir dari dekat sekali

cemburu pada bibirku yang merona gincumu

bibirmu terluka tergores puisi

lalu kau marah padaku

marah adalah ramah yang merah

berkibar di tiang tawamu

                        Senin, 11 September 2017

MAWAR

di atas meja belajarku

tumbuh mawar merah yang ramah

ia mencintai hujan

dan merawat air mataku

tengah malam aku berteduh di bawah kelopaknya

dan ia mengajarkan aku tentang keindahan

keindahan adalah Tuhan

yang sedang meyembuhkan matamu

menghangatkan alismu

                                    Senin, 11 September 2017

SELIMUT

hidup dalam kesunyian ini

ramai sekali dengan rindu dan kenangan

tidur-tidur malam

terlalu sulit memungut mimpi

selimut kenangan membungkus bau tubuhmu

aku terus ingin, dingin sendiri

ingin pulang sekedar terselip

di imut pelukmu

                                    Senin, 11 September 2017

CURHAT SEORANG TAHANAN

tengah malam di antara baris jeruji

ia bisikkan sepatah kata ini: semoga

aku tetap di sini supaya bapa presiden tahu

kalau Indonesia belum merdeka.

                                    Sabtu, 14 Oktober 2017 

DI ATAS BATU KARANG KUTULIS PUISI INI

di atas batu karang

di antara gemuruh pecahan ombak

di bawah matahari senja

kutulis puisi ini

kukenang sepuluh tahun silam

saat kau rebah memeluk tubuh

seakan berserah melepas segala lelah

seakan mengucap: “Aku tak bisa hidup tanpa kamu.”

ombak membilas pelataran pantai

angin menyapa rambutmu

rambutmu menyapu wajah  dan leherku

seperti sepoi-sepoi cinta yang menghanyutkan kita

tak ada lagi ketakutan

melepas pias segala berhembus

kita hidupkan laut jiwa dari tubuh

gemuruhnya lebih daripada ini, kita

tenggelam ke dalam dalam mahadalam

cinta adalah laut yang menghanyutkan

kita sedang berhati-hati, kelak

kau atau aku disantap badai: setia dan cemburu,

mencoba bertahan berarti siap dimainkan ombak: terombang ambing

ah, mengapa

di atas batu karang kutulis puisi ini

sendiri mencium aroma galeri cinta

rupanya kau tak bertahan, laut menghanyutkanmu, pergi…jauh…

di atas batu karang kutulis puisi ini

sekedar merapikan jiwa

menghembusi batin dengan kata

agar aku setegar karang seputih buih

                        Tanjung Bastian (14:20), 20 Oktober 2017

DI HADAPAN LAUT

di hadapan laut

di antara belain buih

dan sepoi deru ombak

kutemukan jiwa yang damai

hati yang memiliki puisi

damai…

abadi….

                        Tanjung Bastian, 16 Oktober 2017

KAGUM

Tuhan menggaris warna

di langit senja,

temaram agung, dan

aku karam di kaki langit

                        Tanjung Bastian, 17 Oktober 2017

*Edy Soge Ef Er, lahir di Hewa (Larantuka, Flores Timur), 27 Oktober 1996. Belajar menulis puisi sejak di Seminari San Dominggo Hokeng, Larantuka dan sekarang belajar filsafat di STFK Ledalero, Maumere. Menulis buku kumpulan cerpen “Jendela Sunyi” (2018). Nomor HP: 082119450638.

DI BAWAH TERANG BULAN PURNAMA

DI BAWAH TERANG BULAN PURNAMA

Prolog:  Pembacaan puisi W. S. Rendra (panggung menampilkan suasana romantis malam bulan purnama. Sepasang kekasih saling menatap dari dekat sambil berbagi senyum lalu saling mendekap penuh kasih sayang).

Telah Satu

Gelisahmu adalah gelisahku.

Berjalanlah kita bergandengan

dalam hidup yang nyata,

dan kita cintai.

Lama kita saling bertatap mata

dan makin mengerti

tak lagi bisa dipisahkan.

Engkau adalah peniti

yang telah disematkan.

Aku adalah kapal

yang telah berlabuh dan ditambatkan.

Kita berdua adalah lava

yang tak bisa lagi diuraikan.

Catatan:

Setelah pembacaan puisi selesai langsung diikuti dengan tarian dolo-dolo[1]. Para penari masuk dan membentuk lingkaran yang nantinya melingkupi dua sejoli dan kemudian saling berbalas pantun.

Setting 1:

Lighting panggung suram, samar-samar, seorang perempuan masuk panggung dengan langkah yang berat, tubuh tak kuat benar bagai diliputi tragik dan tragedi cinta perkawinan. Ia sepertinya menyesali janji setia yang diucapkan saat nikah suci. Musik melankoli diputar.

Orang 1(perempuan):

Adam kekasihku, malam bulan purnama tak pernah datang lagi. Purna sudah purnama perkawinan. Pantun dan syair yang kita lantunkan bersama-sama telah menjadi elegi dan balada dalam sepi, sendiri hari-hariku tanpamu. Engkau telah memilih rupiah, gadis manja, pelacur perayu  yang disukai ribuan jutaan lelaki di bumi. Mengapa aku kau tinggalkan (merintih dan menangis). Mengapa… Mengapa… Mengapa… Hari-hari ini aku telah menjadi berbeda. Dulu aku menjadi istri yang penyanyang, dan ibu penuh kasih sayang bagi anak-anak, tetapi sekarang aku hanyalah sampah di masyarakat, mawar liar di ladang hidup malam hari.

Backsound:

 Suara isak tangis perempuan (sentimental dan melankolis).

Orang 1(perempuan):

Adam kekasihku, dengarlah jeritan tangisku. Tangis dari jiwa yang sepi. Jiwa seorang perempuan jalang-melalang-merandai-ilalang malam,malam-malam panjang…….Aku telah engkau jadikan pelacur, Adam.

Orang 2 (laki-laki):

(Masuk panggung)

Hahhaha… Hahaha…. Hahahahaaa… (tetawa bangga, seolah-olah sangat berkuasa). Akulah Adam. Akulah laki-laki, penguasa peradaban. Satu hal penting yang menjadi cita-citaku adalah meningkatkan human trafficking demi uang, uang dan uang. Uang adalah segalanya. Tuhan sekalipun mampu dikalahkan uang. Agama dipolitisai karena uang, religius jatuh karena uang; tidak mampu menaati janji setianya untuk miskin di hadapan Allah. Ah, uang adalah satu-satunya. Karena itu penting bagi saya untuk menjalankan transaksi jual beli manusia. Manusia perempuan harus dijual sebab ia adalah keindahan yang perlu dinikmati. Perempuan, makhluk terindah yang tercipta dari rusukku. Hahaha… Hahahaa….

Backsound: Musik-musik sendu dan melodis.

Orang 1 (perempuan):

Aku perempuan pasrah tak berdaya, telentang manis memendam amarah tak terucap. Aku dibaringkan di padang gurun ranjang nafsu dan birahi milik Adam, lelaki penguasa. Aku layu, lunglai, lalu ranggas… Engkau bebas menyelusuri lekuk indah tubuhku perempuan malang. Tanpa beban dosa engkau menyusuri lorong-lorong indah tubuhku. Singgah  di telagaku yang menyimpan air kehidupan. Aduh,… engkau merobek rumahku, Adam (menagis). Aku menangis. Engkau tak peduli. Dengan kasar engkau memetik apel ranum di dadaku, meremasnya hingga kenyalku tak kenyal. Betapa jahatnya engkau, Adam. Engkau menjual aku dengan rupiah yang tak aku ketahui  berapa jumlahnya. Aku dijual….. Selesai!

Ah…Ah…Ah… (berteriak gelisah)

Mengapa aku diciptakan? Mengapa aku telanjang? Apakah ini gambaran tanpa dosa? Apakah ini cinta dan keindahan? Aku rindu untuk kembali ke firdaus. Di sana aku bisa telanjang lagi di hadapanmu, Adam. Tetapi mengapa engkau masih menganggap dirimu lebih besar, tinggi, agung dan berkuasa?

Orang 2 (laki-laki):

Karena  engkau tercipta dari rusukku – “Inilah dia,tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan sebab ia diambil dari laki-laki” (kej. 2:21-23).

Orang 1 (perempuan):

Mengapa harus rusukmu yang diambi dan bukan tulang yang lain?

Orang 2 (laki-laki):

Karena rusukku lebih dekat dengan hati. Ia adalah pelindung. Ia adalah pendamping. Akulah pelindung perempuan. Akulah pendamping jiwa.

Orang 1 (perempuan):

Tetapi mengapa engkau berkuasa atas aku? Dan kini engkau menjual aku seolah aku ini barang dagangan? Mengapa?

Orang 2 (laki-laki):

Ha! (pause) Ini budaya patriarki (mundur lalu keluar panggung).

Backsound: Instrument gembira, menghibur, menguatkan (klasik).

Orang 3 (pastor):

(Masuk panggung dengan lilin paskah di tangan. Ia datang “melawat” perempuan yang berdosa.)

Anakku, mari dan ikutlah aku. Bulan purnama akan tiba. Tuhan sudah bangkit. Purnama adalah Rahim kehidupan. Purnama adalah cinta. Purnama adalah paskah Kristus. Kristus pulang pada Rahim segala Rahim.

Orang 4 (pemberontak):

Hei pastor, apa yang Anda perbuat terhadap orang ini. Apakah Anda berpikir agama adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan besar kehidupan. Anda harus ingat bahwa Anda seorang yang berdosa. Anda pernah memberi pengakuan bahwa dosa banyak terjadi di atas tempat tidur. Seorang pastor tidak punya istri, tetapi ingin sekali punya istri (pause). Bagaiamana seorang berdosa menuntut orang berdosa. Bagaimana kalau orang buta menuntun orang buta. Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang. Saya curiga jika Anda menolong orang ini kalian akan jatuh ke dalam pencobaan. Orang berdosa yang menuntun orang berdosa keduanya  akan berbuat berdosa.

Orang 3 (pastor):

Apa? (memberontak, tidak puas). Dari mana Anda tahu kalau saya berdosa?

Orang 4 (pemberontak):

Coba kita dengar suara ini.

Orang 3 (pastor):

Suara siapa?

Orang 1 (perempuan):

Suaraku. Suara Maria Zaitun.

Vox:

(Pembacaan beberapa bait puisi “Nyanyia Angsa” karya W. S. Rendra).

 (Malaikat penjaga Firdaus.

Wajahnya iri dan dengki

dengan pedang yang menyala

menuding kepadaku.

Aku gemetar ketakutan.

Hilang rasa. Hilang pikirku.

Maria Zaitun namaku.

Pelacur yang takut dan celaka.)

Jam satu siang.

Matahari masih dipuncak.

Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.

Dan aspal jalan yang jelek mutunya

lumer di bawah kakinya.

Ia berjalan menuju gereja.

Pintu gereja telah dikunci.

Karna kuatir akan pencuri.

Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.

Koster ke luar dan berkata:

“Kamu mau apa?

Pastor sedang makan siang.

Dan ini bukan jam bicara.”

“Maaf. Saya sakit. Ini perlu.”

Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.

Lalu berkata:

“Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.

Aku lihat apa pastor mau terima kamu.”

Lalu koster pergi menutup pintu.

Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan.

Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.

Setelah mengorek sisa makanan dari giginya

ia nyalakan crutu, lalu bertanya:

“Kamu perlu apa?”

Bau anggur dari mulutnya.

Selopnya dari kulit buaya.

Maria Zaitun menjawabnya:

“Mau mengaku dosa.”

“Tapi ini bukan jam bicara.

Ini waktu saya untuk berdo’a.”

“Saya mau mati.”

“Kamu sakit?”

“Ya. Saya kena rajasinga.”

Mendengar ini pastor mundur dua tindak.

Mukanya mungkret.

Akhirnya agak keder ia kembali bersuara:

“Apa kamu – mm – kupu-kupu malam?”

“Saya pelacur. Ya.”

“Santo Petrus! Tapi kamu Katolik!”

“Ya.”

“Santo Petrus!”

Tiga detik tanpa suara.

Matahari terus menyala.

Lalu pastor kembali bersuara:

“Kamu telah tergoda dosa.”

“Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.”

“Kamu telah terbujuk setan.”

“Tidak. Saya terdesak kemiskinan.

Dan gagal mencari kerja.”

“Santo Petrus!”

“Santo Petrus! Pater, dengarkan saya.

Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.

Yang nyata hidup saya sudah gagal.

Jiwa saya kalut.

Dan saya mau mati.

Sekarang saya takut sekali.

Saya perlu Tuhan atau apa saja

untuk menemani saya.”

Dan muka pastor menjadi merah padam.

Ia menuding Maria Zaitun.

“Kamu galak seperti macan betina.

Barangkali kamu akan gila.

Tapi tak akan mati.

Kamu tak perlu pastor.

Kamu perlu dokter jiwa.”

Setting 2:

Panggung terang benderang. Seorang perempuan berdiri di depan mimbar dan berbicara di hadapan pendengar.

Orang 1 (perempuan):

Kekasih Adam yang terhormat, aku akui aku tercipta dari engkau. Tetapi bukan berarti aku lebih rendah darimu Adam, hai laki-laki. Ini adalah kesamaan martabat kita, perempuan dan laki-laki-“Memiliki tulang dan daging yang sama” (Kej. 2:23). Aku juga penolong yang sepadan dengan engkau Adam (bdk. Kej 2:21-23). Karena itu kita saling membutuhkan satu sama lain, khususnya dala hidup perkawinan. Ingat pesan rasul Paulus, “Dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan. Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.” Ok Adam, aku juga mohon maaf karena aku cepat tergoda. Aku lebih dulu jatuh. Ular itu cerdik Adam. Hati-hati ya Adam. Awas digigit ular. Racun ular adalah uang dan kuasa. Tetapi bagaiman ya, kamu sudah minum racun itu. Dan aku telah kamu racuni dengan racun itu. Ah, sudahlah. Oh, aku juga sangat bangga saat ini. Meskipun aku tergoda, aku masih sempat mengingat perintah Allah (Kej. 3:2-3). Sedangkan ketika aku memberikan buah terlarang itu engkau lansung memakannya tanpa peduli pada perintah Allah (kej. 3:6b). Ternyata engkau rakus, Adam. Engkau pelahap, engkau agresif. Engkau liar, Adam. Ingat, Allah menuntut pertanggungjawabanmu pertama-tama (bdk. Kej. 3:9-12), setelah itu baru aku perempuan (bdk. Kej. 3:13). Karena itu, dalam pengajarannya mengenai dosa, rasul Paulus sendiri tidak mempersalahkan aku – hawa – perempuan (bdk. 1 Tim 2:24), melainkan engkau adam-laki-laki sebagai sumber dosa dan maut (bdk. Rom. 5:12-21). Engkau adalah dosa adam. Engkau adalah ular. Engkau adalah penguasa.

Kekasihku Adam yang terhormat, malam bulan purnama sudah tiba. Mari kita tautkan jari kelingking, kita menari dolo sambil bermain pantun.

Epilog:

(pembacaan puisi “Aku Ingin Mencintai dengan Sederhana” karya Sapardi Djoko Damono).

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

SEKIAN DAN TERIMA KASIH

                                                                l

Lampiran:

Pantun yang sering mengiringi tari Dolo-dolo:

“LUIE”

Ulangan (Refren):

lui e…. lui e…. benedita sepia lenggang tangan

lui e…. lui e…. benedita sepia lenggang tangan

oa oa e.. le le… mari mari beta endo

oa oa e.. le le… mari mari beta endo

solo:

kata ikan ikan mata kena

kata ganto ganto ujong bale

kata no mata so tekena

kata hati hati bulu bale

kata padi padi hatu ble

kata rega rega tiga suku

anta oa maso dalam bile

untuk serewi serewi bapa suku

kata mandi mandi ae kongga

kata tako tako malaria

kata no orang punya soba

kata jangan jangan jemberia

kata ae ae kebo kebo

kata turon turon raba ketang

kata oa jangan sebo sebo

kata tunggu tunggu eso petang


[1]Tarian dolo-dolo merupakan tarian tradisional orang Lamaholot (Flores Timur, Lembata)yang mengungkapkan nilai persatuan, komunio kultural, dan nilai persahabatan yang  sering kali dimanfaatkan oleh kaum muda untuk mencari pasangan (jodoh). Biasanya orang muda Lamaholot bermain dolo-dolo pada malam bulan purnama. Dalam tarian ini (siapa saja boleh ikut serta) akan saling menautkan jari kelingking dan membentuk lingkaran. Sekarang dolo-dolo menjadi popular saat pesta perkawinan atau acara syukuran. Namun sebetulnya dulu dolo-dolo dipentaskan pada puncak sebuah ritual adat. Tarian dolo-dolo berkembang dari tarian yang lebih tua, yang disebut Banama : tarian yang dipentaskan sebagai syukur atas panen. . Dolo-dolo diiringi oleh gendang atau gong, tetapi sekarang orang dengan mudah menggunakan  music mp3 yang berirama dolo pada perangkat audio. Perlu kita ketahui bahwa kata dolo-dolo yang kita kenal selama ini, bermula dari kata dola, yakni paduan nada do dan nada la dalam sistem solmisasi sebagai standar bunyi atau nada awal untuk menyampaikan syair atau pantun. Informasi lebih lengkap baca di internet dengan alamat, https://wandypunang.blogspot.com/2017/03/tarian-dolo-dolo-perseteruan-antara.html.

RUMAH KESUNYIAN: RUMAH KREATIVITAS

Rumah Kesunyian, Rumah Kreativitas[1]

(Syering Proses Kreatif)

Oleh Edy Soge Ef Er[2]

Sampai saat ini (nunc) juga di sini (hoc) saya menyadari bahwa saya memiliki rumah kreativitas yaitu rumah kesunyian.[3] Dan saya bersyukur atas keberadaan yang istimewa dalam panggilan suci ini sebab kesendirian saya begitu produktif dan kreatif bagi potensialitas dan aktualitas penciptaan karya sastra. Kesunyian dan kesendirian saya dalam ziarah panggilan bersama Sang Guru merupakan realitas esensial bagi pertumbuhan proses kreatif saya. Pada baris ini  saya ingat untaian puitik P. Leo Kleden dalam “Surat Untuk Tuhan”, “Pada mulanya adalah Sunyi dan Sunyi itu melahirkan Kata dan Kata menciptakan alam semesta dan alam semesta menyanyikan madah. Dan semua madah kembali ke Sunyi di baris terakhir semua puisi. Tapi tak pernah seorang penyair berhasil menulis bait itu. Mungkin pertapa lebih mengenal rahasia Sunyi?”

Kurang lebih hampir tujuh tahun saya hidup dalam suatu dinamika kesunyian yang membahagiakan dan memberi pertumbuhan.[4] Saya mengalami gerak cinta, romansa dan romantika tanpa pengkhianatan, cemburu, dan prasangka serta keraguaan. Saya sanggup berada dan hidup dalam kesunyian karena cinta dan saya bertanggung jawab atas jatuh cinta di waktu lampau ketika masih segar darah remaja yang mengalir lewat nadi seorang anak muda calon imam yang asyik “bertapa” di bawah kaki gunung kembar Lewotobi, lembah Hokeng berkabut, dingin dan syahdu. Saya mencintai sunyi dengan tanggung jawab spiritual yang masih terus saya perjuangkan entah sampai kapan. Cinta saya ini terjawab dalam aforisme saya, “Lebih baik mencintai sunyi karena ia tidak pernah mengkhianatimu, daripada mencintai dia yang tidak pernah mengerti kesunyianmu.”[5] “Sunyi adalah kawan sejati yang tak pernah berkhianat,” kata Konfusius. Di dalam kebersamaan ideal ini bakat sastra saya tumbuh dan berkembang dengan harapan bisa menjadi pohon keindahan yang selalu memancarkan kebenara (pulchrum splendor veritatis, Thomas Aquinas). Dengan demikian apa yang dikatakan  Johann Wolfgang von Goethe benar bahwa bakat terbentuk dalam gelombang kesunyian, watak terbentuk dalam riak besar kehidupan. Saya pikir tidak mungkin jika seorang penulis (sastrawan) hidup tanpa kesunyian dan kesempatan sendiri untuk melihat langit di luar, langit di dalam lalu disatukan ke dalam jiwa; memahami keberadaannya bersama yang lain dalam keutuhan sebagai person.[6] Sekali lagi saya mengutip Leo Kleden, “Pada mulanya adalah Sunyi dan Sunyi itu melahirkan Kata dan Kata menciptakan alam semesta dan alam semesta menyanyikan madah.”

            Dari rumah kesunyian, dari jendela sunyi, saya memandang halaman hidup masyarakat. Ada kagum sejuta puji-puja ketika melihat mawar mekar kala fajar dengan butir-butir embun di kelopaknya yang murni. Namun ada pula sayat duka dan irisan rasa haru ketika hujan tak kunjung tiba, ranting kesepian tanpa daun, sampah berserak bertebaran di halaman kota dan pemulung yang jujur dengan keadaan mengais nasib juga jeritan malam penuh desah juga gairah dari balik kerlap-kerlip diskotik. Saya mengalami paradoks, teka-teki, enigma, dan misteri kehidupan yang membuat saya selalu gelisah dan rindu menggapai jawaban. Rumah kesunyian adalah pertanyaan sekaligus jawaban.

            Saya gelisah, tetapi juga kuat. Saya bertanya-tanya, tetapi sanggup menjawab apa yang sanggup dimengerti. Semua ini berlangsung di dalam kreativitas menulis sastra yang berkembang dengan baik di dalam rumah kesunyian. Di rumah ini saya menulis baik itu prosa, puisi, maupun tulisan ilmiah. Rumah kesunyian, rumah kreativitas, rumah biara adalah tempat segalanya bertumbuh, imajinasi, inspirasi, ide, dan kreativitas. Dinamika ini bergerak dalam keteraturan pola hidup dan tertib kebebasan yang memadai serta dispilin yang menunjang ketepatan beraktivitas.

            Dari rumah ini saya menulis karena saya menemukan habitat kreativitas di dalamnya. Tanpa kesunyian, tanpa panggilan, tanpa latihan atau tanpa keutuhan sebagai pribadi saya tidak mungkin menulis. Saya menulis karena saya hidup (hidup bersama sunyi dalam biara) dengan sebuah totalitas sebagai person (nous, thumos, epithumia, cipta, rasa, karsa); saya mengerti, saya merasa, saya menghendaki. Keutamaan-keutamaan terberi, kesanggupan-kesanggupan kodrati adalah potensialitas eksistensial yang saya buktikan dalam menulis (aktualitas). Dengan ini saya sadar bahwa hidup tidak sekedar bernapas, makan dan minum, tetapi harus diungkapkan, direalisasikan dalam rupa-rupa praksis. Hidup harus dihidupi dengan kehidupan yang bisa menghidupkan hidupmu. Saya menghidupi hidup saya dengan menulis.

            Menulis adalah totalitas ekspresi manusia. Saya menulis berarti saya mengerti, saya peka, dan saya menghendaki. Aktivitas menulis menyatukan tiga kecerdasan manusia yaitu, IQ, EQ, SQ. Pada saat menulis kita sungguh merasakan bagaimana ketiga kecerdasaan itu bekerja. Dalam studi Bahasa Indonesia menulis adalah kompetensi berbahasa paling akhir setelah kompetensi menyimak, berbicara, dan membaca. Karena itu menulis adalah kegiatan yang tidak mudah dipraktikan dan menjadi penulis sudah pasti menempuh jalan panjang proses belajar yang mungkin saja berlangsung sepanjang hidup.

            Anne Morrow Lindberg pernah menulis, “I must write it all out. Writing is thinking. It’s more than living, for it is being conscious of living.” Menulis adalah berpikir yang mengarahkan penulis untuk lebih memahami dan menyadari hidupnya sendiri. Dalam kegiatan berpikir itulah saya mencapai kesadaran, menggapai pengalaman batin, meperoleh pengatahuan akan adanya diri saya, perbuatan saya, dan dunia saya berpijak lalu saya menyebut diri ‘aku’. Menulis membantu saya mengenal diri saya. Atau bisa saja orang lain mengenal jalan pikiran saya lewat tulisan saya. Dalam kesadaran pengenalan diri ini saya mengalami diri saya sebagai kesatuan yang tidak sempurna, kesatuan yang terbagi, kesatuan yang mengandung ketidaksatuan, keutuhan yang mengandung ketidakutuhan. Inilah realitas aktual hidup sebagai paradoks yang tanpa akhir, unlimited. Hidup adalah pertentangan: hati-keinginan, badan-jiwa. Untuk mendamaikan itu saya menulis sebab pencapain akhir dari cipta sastra adalah katarsis (penyucian batin) dan saya mendapat ketenangan, kebahagiaan (eudaimonia) atau saya bisa katakan ekstase atau orgasme spiritual yang membahagiakan.

            Saya juga menulis karena saya tidak hidup sendiri. saya bisa berkomunikasi dengan orang lain lewat tulisan saya. Saya suka sekali menulis puisi untuk mereka yang saya kagumi, khusunya perempuan. Pernah untuk seseorang saya menulis , “Saya suka sekali memandang lalu mengagumi dan merasakan jatuh cinta itu sederhana.” Kepada yang seorang lagi saya menulis, “Selama kata masih bisa kurangkai jadi puisi, aku akan tetap mencintaimu. Dan aku ingin mencintai dengan puisi sebab dengan itu aku mampu menghadirkan dirimu dalam kata.” Ini hanya alasan sentimental. Namun jauh lebih penting menulis adalah mewartakan. Mengomunikasikan pesan (amanat) atau kebenaran kepada orang lain. Pesan tertulis itu abadi (scripta manent, verba volant) selama itu dibaca (diingat), atau tulisan itu disimpan dengan baik, dibaca dan diberikan kepada orang dari generasi ke genarasi. Kita ingat karya para penulis besar yang masih diingat sampai sekarang, misalnya Chairil Anwar: hidup hanya menunda kekalahan, aku ingin hidup seribu tahun lagi, di depan cermin aku enggan berbagi). Karena itu celakalah bila saya  tidak menulis.

            Singkatnya, saya menulis karena saya hidup (hidup bersama yang lain), saya berpikir dan punya tujuan hidup: kebahagiaan. Namun mengapa saya menulis satra. Karena batin saya butuh makan, jiwa saya butuh asupan (Tuhan, berikanlah aku rezeki puisi dalam sunyi hari-hariku, agar aku tidak lapar dan sendiri). Sastra memantapkan perasan, mematangkan rohani, melapangkan pikiran, dan memperjelas kehendak. Sastra membebaskan saya dari belenggu pedoman baku rasionalitas dan teoretis, dogmatik, konvensi-konvensi. Kemerdekaan berproses saya temukan dalam sastra, apalagi (khususnya) dalam menulis prosa (karya bebas) atau dalam puisi saya berpijak pada prinsip licentia poetika. Saya bebas menjelajahi alam di luar (makrokosmos) dan bebas juga menjelajahi alam di dalam (self)  (mikrokosmos)  lewat imajinasi, pengandaian, intuisi, refleksi, dan berpikir. Saya memperoleh kebebesan sebagai manusia di dalam sastra, meskipun tidak sepenuhnya sebab pertimbangan-pertimbangan rasional tetap punya tempat, tidak semata-mata imajinasi bebas.

            Saya menulis sastra karena saya kagum akan keindahan. Saya pernah menulis: keindahan adalah Tuhan yang  sedang menyembuhkan mata kita. Keindahan itu sedemikian ajaib karena mampu menyentuh lubuk hati, kalbu, menghantaui pikiran, menggerakkan intuisi, daya cipta dan maunya diungkapkan dalam puisi atau cerpen atau aforisme atau tulisan apapun. Rasa kagum lahir dari kedalaman dan itu dipengaruhi oleh objek sensasional, oleh keindahan yang empunya substansi, esensi. Dan kita tahu bersama bahwa filsafat juga lahir dari rasa kagum. Barangkali Homerus begitu terpukau dan terkesima dengan cakrawala jagad raya dengan segala keindahannya sehingga diciptakannya syair-syair indah yang memuat nilai filosofis dan kebijaksaan hidup. Saya senang juga bisa belajar filsafat dan punya bakat sastra sebab saya mengalami kedua dalam relasi mutual di mana filsafat membantu saya membaca sastra secara lebih cemerlang dan sastra membantu saya lebih peka dalam filsafat. Tanpa sastra filsafat hanya tinggal padang gurun luas tanpa batas yang tidak punya mata air. Kering jika ketiadaan intermeso sastrawi dalam petualangan filosofis di bukit budi, ledalogos, Ledalero. Demikian juga sastra tanpa filsafat hanyalah musim semi dengan aneka bunga kembang indah yang membuat kita terbuai dalam pesonanya, lalu lupa bahwa itu adalah gambran riil dari yang tidak riil (dunia ide, Plato). Filsafat membongkar selubung semiotik dan menyingkapkan makna dan arti dari simbol dan diksi metaforik.

            Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan “Jendela Sunyi”? Saya mengakui bahwa ia datang terlalu dini. Sebelum fajar  pecah di jendela ia sudah di depan pintu rumah, dan tuan rumah tidak tahu jika ia ada di sana. Bangun pagi tuan rumah membuka pintu dan mendapatinya kedinginan lalu pikirnya ia masih kecil, tak berguna baiklah ia dibuang di halaman atau di tempat sampah. Sayang betul ia seorang premature yang lahir dari rahim sunyi yang belum matang benar. Namun kata orang yang premature punya kemampuan khusus. Biarlah ia bertumbuh dan menunjukkan diri. Saya sudah melepaskannya. Ia telah menjadi dirinya sendiri dan biarlah orang lain menerima dan menilainya. (Puisiku telah memilihku menjadi cela sunyi/di antara baris-barinya yang terang./dimintanya aku tentap redup dan remang, Jokpin). Atau yang lain bilang pengarang telah mati dan mungkin saja kita ingat terminologi Paul Ricoeur, aproriasi dan distansiasi[7] yang menciptakan dialektika baru bagi lahirnya interpretasi yang kaya makna oleh penafsir dan pembaca. Yang dimaksud dengan aproriasi adalah menjadikan yang “asing”  sebagai milik “seseorang”. Saya menulisnya tetapi hasil tulisan itu tidak lagi menjadi milik saya, tetapi milik orang lain (pembaca). Ada distansiasi antara saya dan tulisan saya, tetapi otonomi teks tetap diperhatikan. Saya maksudkan mungkin saja melebihi apa yang tertulis, dan mungkin saja arti tulisan saya melampaui maksud saya sendiri. Karena itu, tugas hermeneutik adalah mencari arti yang terberi di dalam teks dam sekaligus memberi makna baru untuk teks.

            Meskipun “pengarang telah mati”, izinkan saya berbicara sedikit hal tentang “Jendela Sunyi”. Suatu siang yang tidak biasa, ketika masih di rumah kesunyian Novisiat Nenuk, saya menerima tawaran dari saudara Defri untuk menulis antologi cerpen bersama. Sebelumnya sudah ada bisi-bisik perihal penerbit baru di Maumere (Penerebit Carol Maumere) yang membangun inspirasi lewat buku dengan menerbitan karya-karya orang muda NTT. Cerita ini tambah seru dan gurih di kesempatan pertemuan sastra Komunitas Sastra Kotak Sampah[8] dan mulai saat itu saya fight sungguh-sungguh; saya menulis tiga cerpen satu hari. Ternyata kehadiran orang lain sebagai bidan ide (maietika tekhne, Socrates) sangat penting dalam menunjang keaktifan menulis.

            Setelah menerima kabar itu saya mulai tidak tenang, ke sana ke mari memikirkan ide, bahkan gelisah dan malam tiba saya tak sanggup mengatup mata secara sempurna. Terpaksa tengah malam bangun dan menulis penggalan ide. Umunya saya bergerak dari puisi kepada cerpen. Saya memang lebih cocok dengan puisi dan ada teks yang merupakan adaptasi dari tetaer, misalnya Nausea. Saya cukup sanggup menulis puisi dan teater/drama, daripada cerpen. Saya merasa cukup sulit dalam bernarasi secara ringan, mengalir, dan penuh kejutan. Saya masih cacat dalam menulis prosa (cerpen). Karena itu, 9 cerpen saya dalam “Jendela Sunyi” adalah jejak pertama saya dalam menulis cerpen dan banyak sekali kekurangan di dalamnya. Saya kurang mampu menciptakan dialog yang lancar dan mengalir, plot yang biasa saja dan terbatas (fragmentaris). Secara teknis saya banyak membuat kesalahan pengetikan. Meski demikian tema dan amanat saya relevan dan baik untuk direnungkan lebih  mendalam.

            Demikian sedikit cerita dari saya perihal menulis. Saya akan terus menulis selama saya masih hidup dan memiliki kesunyian. Saya punya rumah kesunyian. Rumah,tempat segala dimulai dan diakhiri. Rumah kesunyian adalah titik pijak kreativitas. Dari rumah kesunyian dengan jendela sunyi yang menagumkan saya memandang ke halaman masyarakat. Saya menulis atas realitas hidup dan imajinasi adalah alat ucap yang saya gunakan untuk mewarnai realitas itu sehingga ada cita-cita imajiner yang sekali waktu terwujud dalam realitas objektif.

            “Tuhan, di sunyimu/aku menjahit pahit/puisi semesta/tentang sepotong sakit/sepenggal pamit/ingin pulang pada doa-MU//”.

                                                                                                Wisma St. Gabriel, 21 Februari 2019


[1]Tulisan ini dipresentasikan saat bedah buku antologi cerpen bersama “Jendela Sunyi” di Wisma Rafael, Nita, 22 Februari 2019. Pertemuan ini diselenggarakan oleh komunitas sastra ASAL (arung sastra Ledalero).

[2]Edy soge ef er bersama Defri Ngo menulis antologi cerpen “Jendela Sunyi”. Ia lahir di Hewa (Flores Timur), 27 Oktober 1996. Tahun 2016 menamatkan pendidikan di Seminari San Dominggo Hokeng dan sekarang belajar filsafat di STFK Ledalero. Di tempat ini ia berusaha belajar lebih banyak tentang sastra lewat komunitas sastra ASAL (arung sastra Ledalero).

[3]Saya menyebut rumah kreativitas sebagai rumah kesunyian karena proses kreatif saya tumbuh dan berkembang dalam ruang sunyi biara yang saya mulai sejak di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng, Novisiat SVD St. Yosef Nenuk, dan sampai sekarang di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Di tiga tempat ini saya mengalami romansa sunyi yang dari ke hari mendorong saya untuk membangun intimasi dengan semesta di dalam diri dan di luar lalu ide dan inspirasi bermekaran di kepala dan di kalbu dan saya menulisnya sebagai puisi, cerpen, drama (teater), monolog, dan tulisan nonfiksi. Saya bersyukur atas keberadaan yang spesial sebab kesunyian menjadi ruang untuk bertumbuh dan berkembang baik dalam sastra, spiritual, maupun filsafat. Di dalam rumah kesunyian saya menyadari diri dalam kesendirian yang produktif dan kreatif. Tanpa kesunyian dan ziarah panggilan suci saya mungkin saja tidak menulis seperti sekarang.

[4]Kita mengenal ungkapan terkenal dari St. Bernardus dari Clairvaux (1090-1153), seorang rahib Trapis, “O Beata Solitude! O Sola Beatitude!” – “O sunyi yang membahagiakan, satu-satunya kebahagiaan!”. Mengapa sunyi membahagiakan? Karena Allah dijumpai dan didekap dalam kemesraan yang suci  di dalam kesunyian dan itu memberikan konsolasi tanpa batas dan memberikan pertumbuhan spiritual; “Deus incrementum dedit” (1 Kor 3:7).

[5]Perihal pengalaman personal bersama sunyi dapat dibaca dalam cerpen “Romansa Sunyi” di dalam buku “Jendela Sunyi” (hlm. 111-117).

[6]Rendra menulis, “Langit  di luar, langit di dalam, bersatu dalam jiwa.” Penyair yang memahami keutuhan diri dalam totalitas universum.

[7]Gagasan Paul Ricoeur dalam bidang hermeuneutik khusunya dua istilah yang saya kutip lebih jelas dapat dibaca dalam tulisan Kristianto Naben, “Teologi, Sastra dan Hermeneutic”, Vox  seri 51/03-04/2006, hlm. 123.

[8]Komunitas Sastra Kotak Sampah adalah kelompok sastra para frater dan bruder SVD Novisiat Nenuk yang dibentuk atas ide Defri Ngo, Rian Odel, Edy Soge, dan teman-teman lain untuk mengumpulkan mereka yang memiliki minat sastra supaya dapat berkembang lebih kreatif dan produktif. Hasil yang dicapai cukup baik karena banyak yang terlibat dalam pementasaan sebagai aktor dan juga penulis teks (drama/teater/monolog) dan banyak di antara dengan baik menulis puisi, cerpen, dan esai sastra. Karya-karya mereka di antara sudah diterbitkan di majalah dan di Koran juga media online. Kelompok ini dibentuk pada Minggu, 19 Oktober 2017.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai